Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2024

Jejak Langkah di Seberang Rumah (Part II : Riau)

Jejak langkah di seberang rumah

Ok, kita lanjut kisah tentang perjalanan gw ketika masih berada ditempat itu, kali ini kita turun sedikit dari Provinsi Sumatera Utara, yak kita kr Provinsi Riau. Oh ya, tetap disclaimer untuk nama nama daerah atau kota ataupun itu sebenarnya hanya kecamatan, karena gw ke sana taunya hanya berdasarkan nama cabang tempat gw kerja dulu.

Riau, kalau kata orang provinsi dimana atasnya minyak (Sawit) bawahnya juga minyak (Minyak bumi), di provinsi ini lumayan banyak lah yang gw kunjungi termasuk ada pulaunya juga, kalau diurut itu gw mulai dari perbatasan dengan Sumatera Utara yaitu Bagan Batu, Duri, Dumai, Bengkalis (Pulau Bengkalis), Pekanbaru, Lipat Kain, Taluk Kuantan, Air Molek, Belilas, Rengat, Tembilahan, Pelalawan (Pangkalan Kerinci).

1. Bagan Batu

Bagan Batu, kota yang udah mau sampe ke perbatasan Sumatera Utara, 2 jam kira kira dari Rantau Prapat, kalau dari ibukota provinsi Riau sekitar 7-8 jam perjalanan darat, mungkin kalau sekarang udah ada tol makin singkat. Dulu kalau mau ke sini, begitu naik travel pasti langsung minum antimo biar langsung tidur, bangun pas makan siang biasanya di daerah Duri, baru lanjut sampai ke Bagan Batu. Di sana ada hotel yang jadi satu sama supermarket yaitu hotel Suzuya, ya gak tau bintangnya berapa tapi cukup bersih dan nyaman lah ya, cari makan pun gampang juga karena dibawahnya ada food court gitu.


2. Duri

Kota kedua adalah Duri. Terkenal dengan perusahaan minyak asing yang ada dan buat komplek perusahaan sendiri di kota ini. Kotanya ramai, apalagi terakhir ke sana udah ada mall "Mandau Mall" yang bisa buat cari pilihan makanan. Kalau naik travel ke Bagan Batu pasti singgah dulu di sini buat makan siang, kalau dari Pekanbaru itu jaraknya sekitar 3-4 jam, tapi itu dulu, setelah adanya tol Pekanbaru - Dumai gak tau jadi berapa jam. Hotel di sini ada beberapa, tapi yang sering gw tempatin cuma Grand Zuri Duri aja sih, nah hotel ini termasuk lengkap sih karena ada gym sama kolam renangnya, sarapannya pun enak. Travel ke kota ini pun enak, biasanya mobilnya itu exclusive karena mungkin banayak bos-bos minyak yang travel ke sini ataupun Dumai.

3. Dumai

Kota yang sama dengan Duri, sama karena terkenal dengan perusahaan minyak yang ada di sana, ya benar kota Dumai. Kota ini juga lumayan banyak suplai buah durian ke negera tetangga, Malaysia dan Singapore. Jarak dari kota Pekanbaru sekitar 4-5 jam perjalanan sebelum adanya tol, setelah ada tol katanya hanya berkisar 2-3 jam. Kotanya besar dan lumayan ramai dengan ada satu mall ketika itu yang didalamnya ada KFC. Hotel di sana yang gw tau pernah dua yaitu Grand Zuri dan City Hotel, ya dua duanya termasuk udah hotel bintang 3 ke atas lah ya, jadi sarapannya pun enak.


4. Bengkalis

Kota Bengkalis ini udah bukan di pulau Sumatera lagi karena udah beda pulau, ya namanya sama pulau Bengkalis, tapi kayanya masih masuk provinsi Riau bukan Kepulauan Riau. Di sini gak banyak kegiatan yang gw ingat, cuma kalau makan malam kebanyakan seafood sama mie pedes gitu lupa namanya apa. Hotel tempat menginap dulu di Twin Hotel, ada juga hotel besar pinggir pantai namanya Hotel Marina.

5. Lipat Kain

Nah kalau kali ini gw gak tau ini statusnya Kota atau hanya kecamatan atau bahkan kelurahan, namanya Lipat Kain, ini tempat hanya kaya kota lintas gitu jadi yang rame hanya selintasan aja terus di sini juga kayanya gak ada penginapan pas gw ke sana, jadinya gw nginep kaya kos-kosan gitu dengan kamar mandi dalam yang cuma muat sendirian, makan malam pun susah karena gak banyak pilihan, tempat ini hanya 1 sampe 1,5 jam dari kota Pekanbaru.

6. Taluk Kuantan

Gw awalnya tau ini karena acara PON RIAU kalau gak salah tempat adanya olahraga perahu naga, dan kalau gak salah juga tim Persija juga dulu pernah bertanding di sini waktu lawannya tim PSPS. Di sini sebenarnya ada tempat menginap di tengah kota namun karena penuh gw jadinya agak keluar sedikit ya sekitar 10 menit dari tengah kota, tapi sayangnya pas malam agak susah untuk cari makan, jadi waktu itu cuma makan di tempat warung yang ada.

7. Pelalawan

Orang sana taunya pangkalan kerinci, tapi entah dari mana cabang itu disebut cabang Pelalawan, waktu di sini gw PP dari Pekanbaru, dikarenakan masih baru buka dan jarak tempuhnya hanya 1 - 1,5 jam. Di sana ada perusahaan besar yaitu RAPP usahanya pulp and paper.

8. Air Molek

Nah ini pun gw juga gak tau kalau ini adalah tingkat kota, kecamatan atau kelurahan, sama kaya Lipat Kain dan Belilas, ini hanya kaya kota lintas gitu yang hanya ada satu pasar atau tempat keramaian dan hanya ada satu tempat untuk menginap, ya lumayan sih gak begitu buruk dan dulu pas ke sini ada sate padang depan hotel juga ada tempat makan gak jauh dari pusat keramaian yang jual udang galah dan itu enak.

9. Belilas

Tempat yang gw juga gak tau terkait statusnya, di sini sekitar 3 atau 4 hari karena waktu itu bertiga dinasnya. Tim sebelumnya gak pernah nginap di sini, semua nginap di Rengat kalau gak salah jaraknya itu sekitar 1 jam, nah gw lah tim pertama kayanya nginap di kota ini. Nama hotelnya lupa itu apa namanya yang jelas ketika mau makan siang ataupun malam bahkan sarapan itu susah banget hahaha karena balik lagi kaya tipikal kota lintas

10. Rengat

Nah ini kalau gak salah statusnya kota deh, ini kota pertengahan antara Belilas, Air Molek dan Tembilahan, di sini ada hotel namanya Hotel Danau Raja tepat banget di depan danau gitu. Di sini mungkin sama kebanyakan kota sebelumnya, gak terlalu banyak jalan jalan di sini ataupun cari tempat makan cuma dari hotel - kantor - tempat makan dah gitu aja tempat makan pun cuma yang itu itu aja.


11. Tembilahan

Kota paling ujung di provinsi ini, kalau gak salah dari ibukota provinsi Pekanbaru itu sekitar 6 - 7 jam perjalanan. Kota yang terkenal karena banyaknya parit di sana. Kotanya termasuk ramai dan padat banyak hotel bintang 2 dan 3 termasuk hiburan malamnya. Di sini ada pelabuhan untuk ke pulau - pulau di provinsi Kepri termasuk ke Batam. Di sini buat cari makan gak susah karena emang beneran ramai, di kota ini juga terkenal dengan barang - barang second dari luar negeri.

12. Pekanbaru

Pekanbaru, ibukota provinsi Riau, kota modern kaya kebanyakan ibukota provinsi lainnya. Di kota ini biasanya gw dan tim menghabiskan waktu untuk perbaikan gizi istilahnya, makan enak, ke hotel enak, cari hiburan juga. Salah satu kota buat makan duren murah di kota selain Medan, di sini juga terkenal dengan pindang patinnya selain Palembang.

Nah itu jejak kaki gw di Provinsi Riau, kalau tempat wisatanya kayanya di sini hampir gak pernah nemu tempat wisata.. ok nanti lanjut ke part 3 mungkin ke Sumatera Barat kali yaaa... see you on the next post..

Minggu, 28 Januari 2024

Jejak Langkah di Seberang Rumah (Part 1 : Sumatera Utara)

Jejak langkah di seberang rumah

Jejak kaki gw yang ada dibeberapa kota dan coba gw jelasin kota tersebut dengan point of view, oh ya ini gw dapet ketika gw masih dinas di perusahaan itu bersama mungkin kawan kawan kantor terbaik selama 9 tahun terakhir dan sekarang jejak itu harus berhenti di tahun 2022 ini..

Oke kita mulai dari kota yang paling ujung, btw gw gak bisa tau mana itu kota atau kecamatan yaak jadi gw namain sesuai nama yang gw tau.. lets check it out!


Sumatera Utara

Di provinsi ini, gw udah ke beberapa tempat, ada Binjai, Medan, Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Siborong borong, Tarutung, Kisaran, Rantau Prapat dan Sibolga.. Oke gw jelasin dari paling Timur atau paling Selatan dulu yaa yaitu 

Sibolga

Gw ke sini sekitar bulan Juni tahun 2015, terbang dari Jakarta terus transit ke Medan, dari Medan turun di bandara Ferdinand L Tobing, dari bandara ke kota kurang lebih sekitar 45 menit.
Kota kecil dengan langsung berbatasan laut, lupa di sana makanan apa yang terkenal, yang gw inget diajak ke lapo sihombing yang ada di jalan sebelum lewatin terowongan yang katanya dari jaman penjajahan.
Gw nginep di salah satu hotel terlama dan lumayan besar, hotel Wisata Indah kalau gak salah, hotelnya langsung berbatasan laut.. Kira kira itu untuk kota Sibolga, next kita ke Tarutung dan Siborong Borong

Tarutung dan Siborong borong

Ini masih dalam satu perjalanan dengan Sibolga, gw stay di Siborong borong dan hanya semalam, Kota yang dingin entah bisa disebut kota atau hanya kota kecamatan. Menginap di salah satu hostel di pusat pasar dan dekat dengan terminal. Ketika lagi kunjungan ke konsumen, mampir lah ke kota Tarutung, asli perjalanan dengan view tebing dan sawah ditambah sungai macam lukisan anak SD, sayang di Tarutung gak sempat untuk coba berendam Air Soda atau air belerang mungkin ya.


Pematang Siantar

Siantarmen, kalau kata orang yang berasal dari kota Pematang Siantar, kota sebelum menuju ke Parapat kalau dari arah Medan. Di sini gw nginap di Hotel Horison yang kala itu masih jadi satu dengan sebuah supermarket (Hypermart kalau gak salah). Kota yang terkenal dengan roti Ganda, yaitu roti tawar (semacam roti Hotdog) yang diisi selai srikaya, selain ini ada kedai kopi Kok Tong, Lapo Silindung, juga Seafood Asean. Jangan lupa untuk naik bentor dengan motor BSA nya (Birmingham Small Arms).


Kisaran

Kota ini berjarak 4 jam dari Kota Medan, bisa ditempuh pakai mobil ataupun kereta. Kota dengan lumayan banyak penduduk ras Chinesenya, sayang gak sempat merasakan IMLEK di sana, cuma liat pas persiapannya aja. Gw nginap didua hotel yang berbeda, pertama di hotel Nusa Indah yang berada di luar kota dekat jalan trans dan di hotel Marina kalau gak salah. Belakangan gw baru sadar, kalau ini adalah kota kelahiran Kakek dari bokap gw, sayang gw belum sempat bercerita dengan beliau tentang kota kelahirannya. Kota yang dikelilingi perkebunan sawit. Di sini ada resto yang terkenal dengan menu Indomienya "Indomie Atok" namanya, ada di dekat stasiun Kisaran.


Rantau Prapat

Salah satu kota yang juga ramai di Sumatera Utara dan merupakan kota paling ujung disebelah baratnya yang kalau jalan 1 jam lagi akan berbatasan dengan Bagan Batu (Riau). Salah satu kota yang ada Bioskopnya, selain Pematang Siantar dan juga Medan. Di kota ini juga ada beberapa supermarket lokal kaya Suzuya yang juga jadi Mall di sana (ada 2 Suzuya) dan juga Brastagi, di supermaket Brastagi ini banyak makanan makanan import dari Malaysia dan Spore. Makanan di tempat ini terkenal sama Miso nya tapi gw lupa warung yang enak apa namanya, di sini juga ada roti kaya roti ganda yaitu toko roti Double Bread namanya (terjemahan dari Roti Ganda), selain itu ada tukang mie ayam di simpang 6 yang bukanya hanya pagi sampai siang (saking larisnya), and the last itu ada kedai kopi Akur, tempat orang orang ngechill di waktu sore, kopi susu dan roti bakar selai srikaya jadi andalan kedai ini. Perjalanan dari Kota Medan ke kota ini memakan waktu sekitar 8 jam baik naik mobil ataupun kereta. Di kota ini untuk hotel juga lumayan ada pilihan yang sejajar lah untuk bisa tidur ada Suzuya, Permata Land (ada Gereja di sini) dan juga Platinum Hotel. Terakhir ke sini kalau gak salah medio 2017 deh.

Tebing Tinggi

Kota yang lumayan dekat dengan kota Medan, apalagi sekarang sudah ada jalan tol. kalau dari kota medan sekitar 2 jam lah ya kalau gak lewat jalan tol. Di kota ini dulu pertama kali nginapnya di hotel Malibou, hotel kelas bintang 2 kali ya, di sebelahnya ada nasi lemak yang enak dan seberangnya dulu ada ramayana, kedua kalinya nginap di Ray Inn dekat sama restoran India. Oleh oleh yang khas dari sana adalah roti kacang rajawali.


Lubuk Pakam

Kota paling dekat dengan kota Medan, bahkan kalau gak salah bandara Kualanamu ada di kota ini, gak banyak explore di kota ini karena dulu PP dari Medan ke Kota ini dan seinget gw cuma sekali ke kota ini dah.


Binjai

Kota Binjai, sama dengan kota Lubuk Pakam, merupakan kota yang dekat dengan kota Medan, namun hanya berbeda letaknya saja. Pertama kali ke sana bareng Co Le, nginap di hotel Kardopa dan kalau gak salah sempat ke Stabat juga cuma periksa pos doang abis itu pulang. Ada Mall namanya Binjai Mall dan stasiun kereta di sana. Kalau gak salah ingat itu ada 3 kali gw ke sana, bareng Co Le, Komik Vilia, Nose dan Kak Sef, tapi cuma yang pertama doang nginap di sana, sisanya PP ke kota Medan naik kereta dan turun pas di belakang kantor. 


Medan

Medan, kota yang gak akan habis kalau kuliner. Pertama ke sana kalau gak salah itu pas 2015 bareng Epit sama Yoshar, tapi cuma transit karena tujuan awalnya itu ke Rantau, Kisaran sama Tebing. Pertama kali cuma bisa makan duren Ucok, martabak piring di selat panjang, roti tissu dan sate padang di samping bank Panin Lapangan Merdeka sama beli bolu Meranti. Nah yang kedua bareng Co Le, baru dah kita kulineran dari soto sinar pagi, soto kesawan, bihun kari tabona, seafood wajir, nasi goreng pemuda, dimsum di nelayan resto, nasi kapau uni emi, ditambah nemu makanan enak bareng Vilia dan Komik yaitu ayam goreng RM Gumarang. Hotel langganan dulu adalah di Hotel Hermes ya walaupun biasa aja tapi lokasinya lumayan enak buat kulineran dan gak jauh dari supermaket Brastagi (tempat snack luar negeri berada), tapi pernah juga di Swiss Bell Inn yang di jalan Surabaya dan juga di Santika Dyandra.


Nah itu jejak kaki gw di Sumatera Utara, kalau tempat wisatanya udah ada dipost gw yang lain.. ok nanti lanjut ke part 2 mungkin ke Riau dulu kali yaaa... see you on the next post..

Rabu, 22 Maret 2023

Atambua : Ladang Hijau Fulan Fehan

Sebenarnya perjalanan ini udah 2 tahun lalu, ya tahun 2017 sekitar bulan Maret. Saat itu gw dinas di kota paling timur selatan Indonesia dekat perbatasan Timor Leste, ya Atambua.

Salah satu tempat wisata yang terkenal di sana adalah Fulan Fehan dan Pos Lintas Batas di Motaain. Dua duanya gw kesana, untuk pertama gw akan ke Fulan Fehan dulu.

Perjalanan

Waktu itu gw nginap di hotel Matahari, yang kalau kata temen temen gw di tahun itu merupakan salah satu hotel yang lumayan untuk ditempatin. Jarak dari hotel ini ke destinasi fulan fehan berjarak sekitar 1 jam 30 menit dengan naik motor. Saat itu, gw sewa motor dari hotel, seinget gw harganya 100 ribu tapi gak lepas kunci. Oh ya perlu diingat cuaca kalau lagi musim panas lumayan terik.
Perjalanan menempuh waktu kurang lebih 90 menitan deh, jalanan mulus dan bagus sampai ke awal tempat pendakian, jadi Fulan Fehan ini ada di atas bukit. Dari perempatan ke atas jalanan parah dan rusak, bebatuan gak rapi. Nah setelah melewati bebatuan baru kita liat hamparan luas ladang hijau rerumputan.

Di Atas Bukit

Nah di atas bukit, terhampar ladang hijau nan luas bersamaan banyaknya kuda liar dan sapi liar (liar karena gw sih gak liat bapak penggembala). Nah di sini banyak spot foto yang bisa buat feed IG lo bagus lah. Modelnya sama kaya bukit teletubbies di banyak tempat kaya di Luwuk Banggai ataupun Bromo. Jadi kita ke sana hanya bisa buat foto (Gw sih sama Leo) gak tau kalau yang lain. Jadi palingan kalo ke sini bisa siang siang gitu deh.

Me and Land

Pemandangan atas bukit Fulan Fehan

Tanda masuk berbelok menanjak ke atas bukit

Air Terjun Mauhalek

Nah pas perjalanan pulang, kita sempet mampir ke air terjun, agak jauh sih mungkin pertengahan jalan antara kota dan fulan fehan. Tapi ya gw sih ngerasa gak cozy sih, tapi asik sih satu hari bisa dapat dua tempat wisata.
Warterfall situation

Perjalanan ke bawah

Pintu Masuk Air Terjun Mauhalek


Sabtu, 30 November 2019

Sejenak di Matantimali dan Bukit Hijau di Luwuk Banggai



Juli 2019 ini gw kembali ke Sulawesi Tengah.. after gempa dan tsunami hebat di kota Palu, gw kembali ke tempat ini bersama Feliks dan Om gito.. Kota ini dulu mungkn terkenal dengan wisata lautnya, tapi kalo ini gw coba untuk ke tempat yang beda..

Matantimali

Destinasi pertama gw adalah ke Matantimali, destinasi ini lebih terkenal sebagai tempat paralayang di pinggir kota Palu. Perjalanan cukup sebentar sekitar 2 jam perjalanan. Tracking jalan yang cukup menyusahkan untuk mobil sekelas Evalia, terutama 1/4 perjalanan sehabis lepas aspal dari dusun. Beberapa titik adanya longsor dan sudah dibenahi oleh warga sekitar, namun harus ada partisipasi dari pengguna jalan.

Ketika sampai di atas puncak bukit Mantatimali, kita disuguhkan oleh pemdangan yang indah ke arah kota Palu. Di tempat ini juga terdapat lapangan yang luas mungkin digunakan untuk start paralayang, namun kalau menjelang sore banyak juga orang yang bangun tenda di tempat ini. Ya sekadar untuk lepas penat, sambil ngopi dan makan indomie di atas dengan udara yang mendukung. Di sekitaran lapangan juga ada warung untuk kita yang cuma sejenak singgah untuk beli makanan dan minuman sambil "chill out" kalo kata anak sekarang.
Paralayang Wahyu (Mungkin itu nama tempatnya)

Lapangan luas untuk camp dan start paralayang

Sunset dengan kota Palu
Setau gw, di sana untuk masuk memang bayar namun gak seberapa mahal kok, dan agak susah untuk lahan parkir mobil, untuk motor pun susah juga sih kalau nanti agak ramai. Tapi overall, tempat ini cukup enak buat nongkrong dengan suasana dingin.

Bukit Hijau

Untuk destinasi kedua ini, udah beda kota, kali ini di Luwuk Banggai. Destinasi ini kalau di sana terkenal dengan nama Bukit Teletubbies, ya dibilang gitu karena sama dengan bukit di acara tv Teletubbies. Kota Luwuk itu terdapat di pinggir laut pulau sulawesi.
Sebenernya kita pengen ke Pulo Dua, tapi karena lumayan jauh dan kita bangunnya siang, maka gak jadilah ke sana, dan biar gak terlalu bosen di hotel, kita putusin ke bukit "Teletubbies" karena lebih deket dari kota.
Sebenarnya ini cuma bukit biasa dengan banyaknya rumput ilalang yang terhampar luas, cocok lah untuk menuhin feed IG. Jalan ke sana cuma 30 menit, sebenernya mah cuma 10 KM dari kota tapi karena jalanan yang rusak dan menanjak jadi agak lama.
Di sana gak ada apa apa cuma ladang hijau luas yang juga jadi jalan utama masuk ke desa.
Pemandangan 1

Pemandangan 2

Pemandangan 3
 Yah kalau ke bukit ini sih tujuan utamanya cuma foto foto doang, gak lebih karena gak ada apa-apa juga, makanya cuma 30 menit di sini, terus ke pantai KM 5 untuk ngemil Indomie goreng after mandi dilaut dan makan pisang goreng pake sambel.

Sabtu, 17 Maret 2018

Menuju Air Terjun Sipiso Piso



Dan kembali lagi setelah hampir setahun tidak menulis di blog ini..
Kali ini gw akan bercerita perjalanan ke air terjun sipiso piso di Sumatera Utara. Perjalanan yang udah hampr satu tahun lebih, tepatnya Januari 2017

Perjalanan ke Lokasi

Perjalanan dimulai dari tempat gw menginap bareng Sefri dan El, di kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Perjalanan ditempuh kurang lebih 4 jam dari kota ini, ya hampir sama kalau kita menuju Parapat, dimana terkenal dengan Danau Tobanya. Arahnya pun sama, kita harus lewat kota Pematang Siantar, dan kemudian lewati Sidamanik, perjalanan cukup berliku kalau sudah mau sampai tempatnya. Setelah 4 jam, kita pun sampai....

Gerbang Masuk Air Terjun

Selain ke air terjun, ketika lewat pos retribusi, kita juga bisa ke sisi lain danau Toba

Jalan Setapak Menurun

Sampai di sana, kita bisa langsung menuju tempat parkir, agak terbatas sih yang dekat pintu masuk, namun pas sampai sana masih dapat tempat parkir. Setelah bayar retribusi (lupa bayar berapa), kita mulai disuguhi perjalanan panjang menuju ke bawah.

Pemandangan dari seperempat perjalanan
Pemandangan sisi sebalah kanan, Danau Toba

Foto dari bawah air Terjun

Waktu turun udah kepiran banget gimana rasanya nanti naik, sepanjang jalan turun ke bawah kita sudah disuguhi pemandangan Air Terjun di sebelah kanan dan Danau Toba di sebelah kiri. Lumayan jauh sekitar 30 menit jalan ke bawah. Di dekat air terjun, banyak warung jualan yang berjualan snack dan air minum. Ya walaupun membantu tapi berdirinya warung - warung terlihat jadi kotor (in my mind). Just info, klo gak bawa baju ganti mending jangan ke bawah, karena jarak 20 meter aja udah kena tampias, saking tingginya air terjunnya.
Vandalisme yang selalu terjadi di tempat wisata di Indonesia
Cuma 15 menit di bawah, kita pun naik lagi ke atas, dan tentu perjalanannya lebih lama karena beberapa kali berhenti.

Kembali ke Rutinitas

Setelah beristirahat dan jajan di sekitaran parkiran, kita pun pulang ke kota Tebing Tinggi, sekalian pulang kita mampir ke toko roti ganda, toko roti yang terkenal di kota Pematang Siantar buat bekal pulang.

Minggu, 02 Juli 2017

'Satu Minggu' Mendaki Gunung Lawu

Mulai untuk kembali flash back dengan perjalanan masa lalu. Kali ini perjalanan gw ke Gunung Lawu tahun 2009. Dan berikut kisahnya.....




Team Lawu (Pos 1)

Pemberangkatan yang lelah dan Istirahat di Solo

Bermula dari Stasiun Tanah Abang
Hari minggu sekitar pukul 14.00 kami, Gw, Jona, Anis, Gentur, Toni ditambah personil baru Dito, berangkat ke stasiun Tanah Abang untuk menuju solo dengan kereta kertajaya harga 35ribu, namun kereta sudah penuh walaupun jadwal keberangkatan masih pukul 20.00 mengingat saat itu jadwal arus mudik. Dan mungkin untuk pertama dan terakhir gw naik kereta dengan tempat duduk isi 3 orang tapi ditempatin buat 6 orang. Singkat cerita kami pun berangkat dari stasiun Tanah Abang pukul 20.30 dan sampai di stasiun Jebres (Solo) pukul 10.30 dan melanjutkan perjalanan ke rumah saudaranya Gentur, sambil menunggu Chris yang menyusul. Di Solo, kami membeli logistik dan mampir ke tempat kuliner di sana yang menjadi tempat favorit kami yaitu warung susu Shi Jack, dan juga beberapa angkringan di dekat GOR Manahan. Kami di sana sampai hari selasa karena Chris sampai di sana selasa malam.
Perjalanan yang cukup melelahkan
Susu Shi Jack Kota Barat

Berangkat ke Cemoro Sewu dan Mulai Pendakian

Berangkat dari rumah pukul 08.00 menuju ke pertigaan dekat terminal nusukan untuk menuju Tawang Mangu. Dari sana kami naik bus kota sampai terminal Tawang Mangu harga sekitar 10-15 ribu. Sampai di sana sekitar pukul 11.00, dilanjutkan dengan menaik semacam mobil L300 sampai ke pos pendakian Cemoro Sewu harga 5 ribu. Sampai di pos sekitar pukul 12.00, dilanjutkan dengan makan siang dan pendaftaran, dan sekitar pukul 13.30 kami memulai pendakian menuju pos 1.
Sepanjang perjalanan menuju pos 1 diasi pemandangan kebun warga, perjalanan menuju puncak Argo Dumilah telah teratur dan cenderung "ngetrack" sampai di pos 1 sekitar pukul 14.30, kami pun beristirahat.
Gerbang Masuk Cemoro Sewu
Istirahat di pos 2

Melanjutkan perjalanan dari pos 1 ke pos 2 sekitar pukul 15.00, dan kemudian tiba di pos 2 Watu Jago, yang dipercaya sebagai makam dari Gatot Kaca, sekitar pukul 16.00 dan istirahat sekitar 30 menit. Kami melanjutkan perjalanan ke pos 3 sekitar satu jam perjalanan dan tiba pukul 17.00 dan mempersiapkan persiapan untuk mendaki malam. Kami langsung melanjutkan perjalanan yang sudah mulai menanjak terjal. Sekitar pukul 19.00, masih dalam perjalanan antara pos 3 dengan pos 4, kami mendirikan tenda tepat di punggungan gunung Lawu dikarenakan kondisi fisik yang sudah mulai drop.

Menikmati Sunrise di sisi Lawu

Anis dan Jona
Pagi yang indah di punggung gunung Lawu, sekitar pukul 05.00 diawali dengan munculnya sang surya dari tempat peraduannya, kalo bisa dibilang "its the best spots of Lawu" menurut saya. Kami banyak mengambil foto di tempat ini. Ya terutama sepanjang jalur pendakian dari tempat camp sampai pos 5. Kami mulai pendakian sekitar pukul 09.00 dan tiba di pos 4 setengah jam kemudian. Di pos 4 merupakan puncak dari punggung Lawu, banyak tempat landai namun sangat terbuka. Dari pos 4 melanjutkan ke pos 5, di sini jalan agak landai. Di tengah perjalanan terdapat pertigaan yang menuju ke Goa. Sampai di pos 5 20 menit kemudian. Jadi, tidak sampai 1 jam kami tiba di pos 5. Di sana terdapat banyak warung dan ada sumber air serta pertigaan yang menuju Sendang Macan, sayangnya ketika itu hanya H-6 sebelum Idul Fitri jadi warung tutup semua, kecuali warung Mbok Yem, yang kebetulan juga bertemu di Sendang Songo, saat mengambil air.
Setelah istirahat, kami pun beranjak ke puncak Argo Dumilah dengan meninggalkan carier kami tidak jauh dari pos 5.

Puncak kami datang 
Perjalanan Menuju Puncak

Perjalanan pun dimulai, kondisi jalur yang ditempuh berbeda dengan jalur sebelumnya, agak berpasir. Sampai di puncak kami sekitar pukul 11.30, dan kami beristirahat sambil berfoto. Di sana terdapat semacam tugu yang menandakan kami telah sampai puncak gunung. Sekitar 30 menit kami di atas, dan kami pun turun mengambil carier kami dan menuju ke warung Mbok Yem.
Jalur Menuju Puncak

Sendang Drajat

Perjalanan Turun dan Wisata Ke Jogja

Di warung Mbok Yem kami istirahat, makan nasi pecel plus telor dadar dengan harga 5 ribu. Kami tidur sampai sekitar pukul 14.00 dan kemudian pamit turun.
Kami turun melewati sisi lain gunung, menuju pos pendakian Cemoro Kandang dengan kondisi jalur yang 180• berbeda dengan jalur Cemoro Sewu. Jalur turun lebih merupakan jalur alam dengan alas tanah dan sempit, berbeda dengan jalur naik yang cenderung berbatu. Di pos 4 jalur Cemoro Kandang, terdapat batu nisan para senior kami yang terlebih dahulu "meninggalkan pesta". Kami sampai di pos pendakian Cemoro Kandang sekitar pukul 18.00 berarti sekitar 4 jam dari warung Mbok Yem. Dan catatan ketika turun bau belerang cukup lumayan tercium di deket kawah pos 3. Kami kemudian mencari tempat untuk bermalam, namun karena tempat istirahat di basecamp udah penuh, dan tempat yang tersedia cukup terbuka maka kami pun beristirahat menghabiskan malam di belakang warung tempat kami membeli makan.
Kami pun turun dari Cemoro Kandang dengan menyewa mobil pemilik warung, 10 ribu per orang sampai terminal Tawang Mangu. Sampai Tawang Mangu, kami melanjutkan perjalanan ke terminal Nusukan. Dari terminal Nusukan, lanjut jalan kaki ke stasiun Balapan untuk ke Jogja menggunakan kereta Pramex, harga 9 ribu. Perjalanan 2 jam sampai stasiun Tugu, sampai di sana kami menginap di rumah salah seorang saudara Gw dan menikmati malam kota jogja, pergi ke Alun-alun kidul dan alor, serta Malioboro dan angkringan tugu. Kami pulang ke Jakarta pada sabtu sore dari stasiun Lempuyangan. Dan tiba pada minggu pagi di stasiun Manggarai, lanjut ke stasiun Tj. Barat dan jalan kaki menuju rumah saya.
Menikmati Jogja W/ Toni

Di atas Pramex


Sabtu, 21 Januari 2017

Short Escape to Kepa Island

Berpetualang lagi ke Timur Indonesia, kali ini gw mengarah ke pulau Alor. Salah satu pulau kecil di provinsi NTT. Kali ini gw dinas bareng Daniel. Memanfaatkan waktu luang gw di weekend di pulau ini, gw coba menyebrang ke pulau kecil yang ga jauh dari Pulau Alor ini. Pulau Kepa namanya.

Menikmati semalam di pulau Kepa

Pulau Kepa ini ga terlalu luas dan ga banyak yang bisa dieksplor di pulau ini, karena memang kecil banget. Sabtu siang, gw berangkat ke pelabuhan di ujung lain pulau Alor, di sana pelabuhan untuk menyebrang ke beberapa pulau kecil ataupun ke pulau Flores. Menyebrang ke pulau Kepa ga perlu waktu lama paling hanya 5 menit tapi dengan arus laut yang cukup deras.

Di sana ada beberapa penginapan, tapi yang terkenal dan agak luas yaitu La P'tite Kepa. Salah satu penginapan yang biasa yang dikelola dan dimiliki oleh WNA dari Perancis. Menjadi salah satu tempat menginap yang paling ramai dan selalu penuh, wajar kalo gw booking dari jauh jauh hari, dan sistem bookingnya hanya bisa via sms tidak menerima telepon, itu sih yang gw pernah lakuin. Range harga buat ditempat ini berkisar 200 - 500 ribu per orang dan ada beberapa tipe rumah atau bungalow yang semuanya langsung menghadap ke laut. Fasilitasnya sederhana namun wah banget buat orang kota yang mau menyendiri.

Di belakang pulau ini ada pantai kecil yang ga begitu luas namun bisa untuk mandi dan berenang. Di tempat ini juga bisa ikut paket diving atau snorkling dan meraka punya jadwal untuk tempat spotnya.

Yang menarik di penginapan ini, para tamunya rata - rata adalah WNA dan menginap untuk waktu yang lama, biasanya lebih dari 1 minggu, bahkan ada yang sampai 3 bulan. Dan ketika waktunya makan, mereka semua berkumpul jadi satu meja dan mempersiapkan alat - alat makan bersama yang menurut gw KEREN!


Its time for dinner

Main House

Our Bungalow
Pantai di belakang pulau

Menjelajah pulau - pulau kecil di sekitar Pulau Alor

Minggu Pagi, setelah sarapan gw siap-siap buat snorkling di sekitaran Pulau, siapa yang ga tau tentang dunia bawah lautnya pulau Alor ini! Namun sayang ketika udah semua siap, ada kendala di kapal milik penginapan dan akhirnya batal untuk jalan. Harga buat snorkling kurang lebih 150 ribu, kalo buat diving kurang gitu tau, tapi ini meniatkan gw untuk ambil lisence dive!! Akhirnya gw menyewa kapal nelayan setempat untuk pergi keliling pulau. Dan akhirnya gw keliling pulau Ternate, disebut Pulau Ternate karena menurut temen gw, di sini kebanyakan orang berasal dari pulau Ternate Maluku. Di sini, gw sempat berenang menikmati alam bawah laut dengan alat yang seadanya. Di pulau ini juga terdapat home industri untuk kain tenun yang harganya variatif dan tentu lebih murah sebelum masuk ke kota.

Lest do this! its So fun!

Kacamata renang dengan kearifan lokal

Tenun made by home industri



Minggu, 23 Oktober 2016

Raja Ampat, 'short get away from earth to heaven of the sea'

Papua, pulau besar di timur Indonesia dengan sejuta eksotismenya. Beruntung gw bisa mendarat di pulau ini dan jalanin short trip yang waw banget. Perjalanan kali ini gw bareng Dery dan Alvert (baca:Apet) dan seperti biasa diakhir minggu dapet kesempatan jalan dan kali ini ke Raja Ampat, kepulauan yang belakangan banyak diomongin karena eksotismenya.

Perjalanan ke Pulau Waisai

Hari sabtu abis pulang kantor kira - kira jam 1, gw berangkat ke pelabuhan penyebrangan antar pulau di kota Sorong dan bersiap ke pulau Waisai di kepulauan Raja Ampat, ini salah satu pulau besar yang termasuk dalam kepulauan dan yang paling dekat dengan Papua. Harga satu orang sekitar 128 ribu per orang. Kapalnya lumayan besar dan nyaman. Perjalanannya kira-kira sekitar 2 jam.
Pas sampe di sana udah ada tukang ojek atau taksi yang siap anter ke penginapan. Harganya kalo taksi 100 rb kalo ojek sekitar 10 - 20 ribu sekali naik, jauh atau dekat.
Gw nginep di Hotel Raja Ampat karena ga kuat kalo di Waiwo atau Raja Ampat Dive Resort hahahahaha. Ratenya sekitar 500rb. Deket hotel ada pantai dan tempat makan yang bisa jadi pilihan. Malemnya gw ketemu sama orang yang siapin buat perjalanan besok.

Keliling kepulauan

Minggu pagi sekitar jam 8 karena ujan, gw mulai berangkat dari pelabuhan wisata (beda pelabuhan dengan pelabuhan penyebrangan. Trip kali ini ke Flying Monda - Sawinggrai - Pianemo - Arborek - Pasir Timbul - Waiwo dengan harga 4,5 juta per kapal muat isi sampe 6 orang.

1. Flying Monda

Di sini kita bisa liat karang karang atau pun beningnya air laut, di sini sih menurut gw biasa aja yah karena cuma liat sekeliling pulau aja dan ga bisa berenang.
Daerah Flaying Monda

2. Sawinggrai

Di sini kita bisa kasih makan ikan dan di tempat ini ada yang jual makanan ikan dari terigu terus dikasih air, harganya lumayan 150 ribu per baskom.
Ga boleh turun ke air!!!
Kampung Sawinggrai

3. Pianemo

Tempat ini disebut juga mini wayak, tempat yang bagus buat foto dan liat gugusan kars dari atas.
Foto Depan Pintu Masuk
The Main Photo of The Day


4. Arborek

Tempat luar biasa buat kelas snorkling, karena di tempat ini sampe kedalaman 2 - 3 meter aja udah bisa liat ikan lumayan gede bahkan jarang ikan kecil kecil.
Arborek!!!

Kearifan Lokal

5. Pasir Timbul

Gundukan pasir yang timbul di tengah - tengah laut, di sini kita bisa buat foto - foto dan ada spot diving ga jauh dari spot pasir timbul ini. Kalau kesorean ga akan dapet spot ini karena air sudah pasang
Pasir Timbul

6. Waiwo

Di tempat ini asalnya dermaga untuk waiwo resort tapi di sini kita bisa snorkling/diving tapi airnya ga sebagus arborek walaupun ikannya sama lah ga beda jauh.
Dermaga Waiwo Resort

Salah satu spot snorkling 



Yah buat gw lumayan lah antara harga dan yang pengalaman yang gw dapet. Sekedar buat info, kalo bisa mau ke sana 
  1. Jangan hari Sabtu atau Minggu karena ada beberapa tempat yang hari Sabtu atau Minggu merka ga perbolehin ada aktivitas di daerahnya alasannya karena mereka sebagian besar Kristen dan pada ibadah di hari itu.
  2. Kalo bisa punya license dive, karena nyesel kalo ga diving di sana
  3. Datengnya jangan pas musim angin karena pengaruh sama harga dan tempat yang dikunjungin
Selain tempat tempat diatas masih banyak banget spotnya yang bisa didatengin specially WAYAGdan MISOOL!


Rabu, 10 Februari 2016

Cobain Kuliner Dendeng Batokok dan Itik Lado Mudo Di Sumatera Barat

Sesuai dengan judulnya kali ini gw mau share tentang enaknya dendeng batokok dan itik lado mudo yang ada di Sumatera Barat, siapa tau salah satu dari kalian lagi di sana atau pengen ke sana. Ini waktu perjalanan gw ke sana sekita bulan Juli (http://vadiantprihast.blogspot.co.id/2015/12/ber-weekend-di-bukittinggi.html)

1. Itik Lado Mudo

Tempat buat nikmatin ini makanan ada di Bukit Tinggi, tepatnya dibawah ngarai Sianok, dari Junjung Koto Gadang adak terus turun sedikit, letaknya di sebelah kiri jalan. Tempat makannya biasa kaya rumah gitu doang. Di sini yang terkenal itik lado mudo, harganya waktu itu 40 ribu lupa itu udah sama nasi atau belum. Gw pilih di tempat ini karena yang menurut temen gw (Feliks) ini yang terkenal.
Seporsi Itik Lado Mudo
Itiknya itu dimasak dan dikasih cabe hijau dan agak sedikit berminyak khas kaya makanan padang lainnya, yang jelas dagingnya gak alot. Biar agak seimbang disediain juga timun yang rasanya agak beda kaya dikasih bumbu atau garam gitu. Pokoknya kalo masih bernai makan ini itik ga akan cukup cuma 1 porsi.

2. Dendeng Batokok

Dendeng batokok atau dendeng yang dipukul. Tempat yang sediain ini agak jauh dari kota Padang, letaknya di Sungai Kalu (RM Sungai Kalu 1) dan Padang Aro (RM Sungai Kalu 2) ya kira - kira 3 jam buat sampe di Sungai Kalu dan tambah 2 jam buat sampe di Padang Aro. Mungkin banyak ya rumah makan yang sediain menu ini, tapi buat gw ini recomended abis.
Layaknya rumah makan padang biasa, di sini juga ada menu menu yang lain, tapi ya yang terkenal Dendeng dan Belutnya.
Sayangnya 4 kali dateng ke sini, gw ga bisa ngerasain belut gorengnya yang katanya lebih terkenal dibanding dendengnya.
Seporsi Dendeng Batokok
Dedengnya itu empik dan basah, disajiin pake sambel ijo dan juga jengkol plus masih anget. Gw lupa berapa harga buat seporsi dendeng ini. 

Buat Gw, kedua makanan ini bikin laper pas nulis blog ini dan masih bisa dibayangin enaknya makan ini di tengah musim hujan!!!!
Pokoknya Ranca Bana!!!!
#MyDutyMyAdventure